PINTAR SAJA TIDAK CUKUP

SHARE

Minggu-minggu ini, berita lama kembaali menghebohkan dunia maya. Seorang gadis berusia 19 tahun, Isabella Guzman, didakwa melakukan pembunuhan atas kematian ibunya pada 28 Agustus 2013. Mengapa berita ini muncul lagi sekarang? Bagaimana mungkin, seorang anak berusia 19 tahun bisa melakukan hal seperti itu? Bahkan yang paling menyedihkan, dia masih bisa tersenyum di depan kamera setelah melakukan tindakan tersebut. Apakah yang menyebabkan gadis itu melakukan tidakan yang sekeji itu?

Isabella Guzman, yang semula didakwa atas pembunuhan tingkat pertama, namun pengadilan akhirnya memutuskan ia tidak bersalah karena kondisi kejiwaannya, dan dirinya di kirim ke rumah sakit jiwa untuk diperiksa. Hasilnya Isabella diyatakan menderita skizofrenia paranoid. Skizofrenia paranoid adalah penyakit kejiwaan yang menyebabkan seseorang sulit membedakan mana khayalan dan mana kenyataan. Istilah skizofrenia adalah serapan dari bahasa Inggris yaitu "schizophrenia", yang memiliki arti pikiran yang terpecah. Penyakit ganguan otak ini hingga hari ini belum ditemukan pasti penyebab munculnya. Namun sejumlah peneliti meyakini ada beberapa faktor yang mampu meningkatkan risiko penyakit ini antara lain, stress berlebihan, sering mengkonsumsi obat psikoaktif selama masa remaja dan dewasa muda, sering terkena paparan virus,  racun, atau kekurangan gizi selama masa kehamilan.

Pelajaran apa yang didapat dari kasus Isabella?

Dari peristiwa ini kita semua diingatkan bahwa perkembangan hidup seseorang tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektualnya saja. Kita sering terjebak, bangga ketika memiliki anak hebat dalam kemampuan akademisnya. Berbagai kejuaraan kecerdasan intelektual terus dikejar sebagai jalan memperoleh kebanggaan. Padahal hebat dalam intelektual saja tidak cukup. Menurut banyak ahli kecerdasan itu hanya berperan 10-20 persen saja keberhasilan seseorang. Manusia harus tumbuh secara seimbang dalam mengembangkan kecerdasan intelektua (IQ), kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ). Bahkan, untuk mendukung agar ketiga kecerdasan tersebut dapat dikembangkan dengan baik seseorang juga harus memiliki kecerdasan fisik (PQ) yang baik pula.

Kecerdasan fisik (Physical Quotient) adalah masalah yang menyangkut kekuatan dan kebugaran otot sekaligus kekuatan dan kebugaran otak dan mental. Orang yang seimbang fisik dan mentalnya memiliki tubuh yang ideal serta otak yang cerdas. “Mensana in corpori sano”, di dalam badan yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Ungkapan itu mau menyatakan bahwa kecerdasan fisik atau PQ merupakan sebagai dasar dari elemen IQ dan EQ. Dengan fisik yang sehat maka seseorang akan terdukung untuk mengembangkan kecerdasan yang lainnya.

Cara meningkatkan kecerdasan fisik dalam pendidikan di Sekolah Ricci dilakukan antara lain membiasakan peserta mengkonsumsi makanan yang sehat, malakukan brain gym sebelum belajar, olah raga yang tepat, dan terus memotivasi berpola hidup sehat. Sarana untuk mencapai hal itu juga terus dikembangkan di sekolah. Sarapan pagi, meskti tidak setiap hari dilaksanakan bersama, merupakan salah satu cara yang harus menjadi kebiasaan peserta didik sebelum memulai aktivitas belajar.

Emotional intelligence atau Emotional Quotient adalah kemampuan dari seseorang untuk menggunakan, serta memahami tingkat emosi orang lain, baik emosi diri sendiri maupun orang lain yang bertujuan untuk menjaga kesehatan fisik dan juga mental. Seseorang yang memiliki tingkat kecerdasan emosional yang baik cenderung dapat mengelola emosinya dengan baik. Beberapa ciri orang yang memiliki kecerdasan emosional yang baik antara lain, memiliki kesadaran yang tinggi (self awareness), mampu mengotrol perilaku diri (self regulation), memiliki motivasi diri yang baik (internal motivation), rasa empati, dan memiliki ketrampilan bersosialisasi yang baik.

Penanaman kecerdasan emosional siswa dilakukan antara lain melalui kegiatan aksi sosial, membantu orang lain yang mengalami musibah, kunjungan siswa ke panti sosial, kegiatan donor darah, dan sejumlah kegiatan ekstrakurikuler. Program retret siswa, rekoleksi, live in, studi tour, membentuk kepanitiaan kegiatan siswa juga merupakan ajang yang baik untuk menanamkan kesadaran pentingnya menghargai orang lain, bekerjasama, menerima orang lain apa adanya, mengelola emosi, dan membangun hubungan hidup bersama yang baik.

Kecerdasan spiritual (spiritual intelligence atau spiritual quotient) adalah jenis kecerdasan yang erat kaitannya dengan kemampuan spiritual yang membantu seseorang untuk hidup lebih baik. Memiliki kemampuan ini memungkinkan anak untuk menyatukan spiritualitas, kehidupan batin (inner life), dan kehidupan di luar dirinya (outer life). Stephen R. Covey menjelaskan bahwa keerdasan spiritual menjadi pusat yang paling dasar dari kecerdasan lainnya. Hal ini disebabkan kecerdasan spiritual menjadi sumber bimbingan untuk kecerdasan lainnya. Beberapa ciri orang yang memiliki kecerdasan spiritual yang baik antara lain, memiliki kesadaran terhadap diri sendiri dan lingkungan, mampu berfikir secara holistik, selalu bertindak meminimalisir masalah atau kerusakan, berani menghadapi tantangan atau kesulitan, serta memiliki kemampuan kontemplasi yang tinggi dalam dirinya.

Apa yang dilakukan sekolah untuk melatih siswa memiliki kecerdasan spiritualitas yang baik? Sejumlah kegiatan yang dilakukan sekolah antara lain: retret dan rekoleksi siswa, renungan pagi bersama setiap hari sebelum memulai kegiatan belajar mengajar, membuat catatan refleksi diri, doa Angelus jam 12.00, misa , mengunjungi teman yang sakit, mendoakan teman yang sakit atau yang berulangtahun.

Kita ingin anak-anak kita dapat berkembang secara utuh mereka memiliki fisik yang baik, kemampuan intelektual yang baik, bertumbuh bagus dalam emosionalnya dan memiliki spiritual yang baik pula. Itulah yang terus dibangun dalam layanan pendidikan di Sekolah Ricci, sejak tahun 1997 yang lalu. Dan dengan cara inilah kita ingin membetuk anak-anak yang hebat di masa yang akan datang.