MENGISI KEMERDEKAAN DI MASA PANDEMI.

SHARE

 

Sebagai bagian dari warga Negara Indonesia dan sekaligus sebagai orang beriman, kita diundang untuk ambil bagian dalam karya Allah untuk Indonesia. Pasti Allah punya angan-angan ketika para pendiri bangsa indoensia mendirikan Indonesia. Allah pasti punya mimpi bahwa melalui para pendiri bangsa Indonesia Negara ini menjadi Indonesia Raya, Negara yang besar, dengan penduduk yang begitu banyak dengan berbagai budaya, latar belakang suku dan adat istiadat. Sungguh sangat indah. Para pendiri bangsa sangat brilian. Mereka dapat menyatukan Indonesia yang begitu luas. Indonesia berdiri dan Indonesia menjadi besar pasti itu adalah karya Allah, mimpi Allah, cita-cita Allah sendiri. Maka, andaikan kita tidak mensyukurinya kita berdosa. Apalagi kalau kita tidak memeliharanya, bahkan kalau kita ingin mengacaukannya, ingin merubahnya, ingin merombaknya. Kalau kita melakukan itu semua pastilah kita akan menjadi orang-orang terkutuk oleh Allah. Mengapa? Karena dengan begitu kita tidak menghormati mimpi Allah, cita-cita dan angan-angan Allah.

Arti Merdeka.

Semakin merdeka seharusnya orang semakin berbuat baik, semakin manusia dan semakin beradab. Indonesia merdeka sudah 76 tahun. Meski sudah cukup lama, ternyata masih ada banyak pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan. Masih begitu banyak saudara-saudari kita yang belum merdeka, dalam arti belum menjadi bagian yang tak terpisahkan dari  bangsa ini. Kita masih melihat begitu banyak orang yang belum manusiawi, belum beradab, bahkan ada yang cenderung mengganggu kebhinnekaan, kesatuan negeri ini yang berdiri di atas dasar UUD 1945 dengan semangat Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Itulah contoh orang-orang yang belum merdeka.

Manusia merdeka tidak berbuat jahat, tidak melihat orang lain sebagai musuh, melainkan sebagai saudara, bagian tak terpisahkan dari hidupnya. manusia samerdeka akan solider dengan semua orang, akan hidup dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika.

Memaknai Kemerdekaan.

Allah tidak mengenal diskriminasi, tidak membeda-bedakan orang. Dia boleh dijumpai oleh siapapun, dengan cara apapun. Hati Allah terbuka bagi semua orang. Perbedaan keyakinan, agama, latar belakang apapun tidak membuat Allah membeda-bedakan orang. Allah tidak mengistimewakan orang dengan keyakinan tertentu atau apapun. Allah adalah bapa semua orang.

Marilah kita menjadi orang-orang merdeka. Kita jadikan semua orang dalam latar belakang apapun, sebagai bagian hidup tak terpisahkan dari kita. Yang mesti kita lakukan selalu  berbuat baik kepada semua orang, bukan berbuat jahat.

Generasi Milenial Merayakan Kemerdekaan.

Generasi  milenial meraupakan generasi yang memiliki tanggung jawab melanjutkan perjuanga pendiri bangsa dan mempertahankannya. Kita mesti mensyukuri kemerdekaan Indonesia dengan melakukan –msing. tugas dan tanggung jawab, sesuaikemampuan kita, ketampilan dan keahlian kita masing-masing. Menghormati dan menghargai jasa para pahlawan dengan meneruskan pesan meneladan hidupnya dan bangga sebagai bangsa Indonesia. Menjaga kerja sama antara warga, hidup rukun dengan masyarakat sekitar, peduli pada kesulitan dna penderitaan orang lain adalah wujud dari keterlibatan kita untuk bangsa ini. Indonesia memiliki berbagai keragaman baik budaya, suku, agama dan adat-istiadat. Maka, menjaga toleransi, menciptakan kerukunan, bergotong royong, memperkaya diri dengan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan bagian dari upaya kita terlibat dan membangun bangsa Indonesia menuju Indonesia jaya, Indonesia Raya, dan Indonesia emas.

Semoga Allah memberkati bangsa dan Negara ini, agar tetap utuh dan sekaligus semakin maju, beradab, manusiawi. Itulah artinya merdeka.

 

Sumber:

  1. Cuplikan Homili Mgr. Yohanes Harun, dalam Peringatan HUTRI ke-76 PASSpapa, 16 Agustus 2021.
  2. https://www.youtube.com/watch?v=vctvcSLDmMc