BANGKIT! KITA BANGSA YANG TANGGUH

SHARE

HARI KEBANGKITAN NASIONAL 2021

Tema Hari Kebangkitan Nasional 2021 adalah “BANGKIT! KITA BANGSA YANG TANGGUH”. Tema ini dipilih, tampaknya ingin mengajak seluruh warga Negara Indonesia untuk tetap optimis dalam menghadapi tantangan di masa depan. Saat ini bangsa Indonesia sedang menghadapi masalah pandemi Covid-19. Kita harus tetap menjadi bangsa yang tangguh untuk menghadapi berbagai persoalan dan tantangan bangsa pada saat ini.

Menteri Kominfo Johnny G Plate dalam sambutan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2021 menyatakan bahwa peringatan Kebangkitan Nasional ini menjadi titik awal dalam membangun kesadaran untuk bergerak mengatasi permasalahan bangsa. Untuk itu semua harus bergeerak sebagai bangsa, dengan tanpa memandang suku, agama, ras, dan golongan manapun.

“Tujuan peringatan Harkitnas ke-113 adalah untuk terus memelihara, menumbuhkan dan menguatkan semangat gotong royong kita sebagai landasan dalam melaksanakan membangunan dan selalu optimis menghadapi masa depan, untuk mempercept pulihnya bangsa kita dari Pandemi Covid-19” demikian dinyatakan Menteri Kominfo, Johnny G Plate.

Indonesia memiliki tiga tonggak sejarah utama yang harus dijaga dan menjadi ingatan bersama sebagai kekuatan untuk menghadapi berbagai tantangan bangsa saat ini dan masa depan.


Di Indonesia, ada tiga peristiwa besar yang patut disyukuri dan harus dijadikan ingatan bersama sebagai kekuatan besar. Peristiwa besar itu yakni adalah Kebangkitan Nasional 20 Mei 1908, Sumpah Pemuda dan Proklamasi 28 Oktober 1928, dan Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945.

Tanggal 20 Mei 1908, tepat 113 tahun yang lalu, Orgnasisasi Boedi Oetomo (Budi Utomo) lahir. Kelahiran Boedi Oetomo itulah yang dijadikan tonggak peringatan terhadap perjuangan kaum muda dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa.

 

Apa yang dapat kita pahami dari Boedi Oetomo itu?

Boedi Oetomo merupakan suatu organisasi kaum muda pada masa itu, yang didirikan oleh dr. Wahidin Soedirohoesodo. Ia berjuang untuk membantu anak-anak miskin dapat memperoleh pendidikan. Sebagai seorang dokter, ia sangat peduli terhadap kemajuan pendidikan anak-anak pada masanya.

Ketika ia ke Jakarta, dr. Wahidin bertemu dengan 3 orang mahasiswa sekolah kedokteran Stovia. Mereka itu adalah Soetomo, Goenawan Mangoenkoesoemo dan Soeraji. Bagi ketiga mahasiswa tersebut, dr. Wahidin bukanlah orang yang asing, belum dikenal. Mereka sudah lama mengaguminya lewat majalah Retno Dumilak. Dalam perjumapaan para pemuda itu, melahirkan pemikiran bahwa perhatian mereka tidak hanya terbatas pada pendidikan, tetapi juga pertanian, peternakan, perniagaan, industry, dan kesenian. Mereka tidak bergerak dalam bidang politik. Untuk mewadahi itu mereka membutuhkan organisasi atau perkumpulan. Maka mereka menyiapkan pertemuan besar.

Pertemuan itu dibiayai mereka sendiri secara swadaya. Akhirnya tanggal 20 Mei 1908 pertemuan dapat dilaksanakan. Dari pertemuan itulah mereka menghasilkan peraturan-peraturan dasarnya seperti tujuan, rancangan kegiatan, anggota, serta pengurus organisasi.

Boedi Oetomo lahir dari keprihatinan kaum muda terhadap penderitaan yang berkepanjangan akibat penjajahan Belanda. Kenangan mereka akan kejayaan yang pernah di alami oleh Kerajaan Sriwijaya atau Majaphit, dan munculnya kaum inteleksutal yang menjadi pemimpin gerakan mendorong mereka untuk terus berjuang melawan penjajaah. Factor internal kesadaran kebangkitan mereka dipicu oleh kesadaran mereka akan timbulnya paham-paham baru di Eropa dan Amerika, seperti nasionalisme, liberalism, dan sosialisme; munculnya berbagai gerakan kebangkitan nsional di Asia, dan kenemangan Jepang atas Rusia. Kesadran mereka akan hal itu mendorong mereka untuk bangkit dari kungkungan penjajah.

Meski Boedi Oetomo sebagai gerakan yang masih terbatas bada etnis dan territorial Jawa, namun gerakan ini dapat diterima sebagai tonggal dari lahirnya berbagai organisasi atau gerakan yang bersifat politik.  Boedi Oetomo diterima sebagai pelopor kebangkitan nasional.

Setelah lahirnya orgnasisasi ini lahirlah kemudian Sarekat Islamt, Indische Partij oleh Ernest Douwesekker, Cipto Mangunkusumo, dan Suwardi Suryaningrat; Sarekat Dagang Islam yang didirikan oleh Haji Samanhudi, Muhammadiyah oleh KH Ahdmad Dahlan, Moemi Poetra oleh Suwardi Suryaningrat dan seterusnya. Hingga lahirlah Kongres Pemuda tanggal 28 Oktober 1928 yang mendeklarasikan Sumpah pemuda yang menetapkan tujuan nasionalis: "satu tumpah darah — Indonesia, satu bangsa — Indonesia, dan satu bahasa — Indonesia".