ANAK MUDA ITU DIANGKAT SEBAGAI BEATO, CARLO ACUTIS.

SHARE

Tanggal 10 Oktober 2020, pukul 16.30 waktu Roma atau pukul 20.45 waktu Indonesia Barat, Gereja Katolik berlangsung Misa Beatifikasi Carlo Acutis, di Basilika Santo Fransiskus Asis.

Kardinal Ignatius Suharyo menyampaikan rasa syukurnya dengan peristiwa itu dan menyampaikan refleksinya atas ditetapkannya Carlo Acutis sebagai beato. Dalam kesempatan itu belau menyampaikan bahwa Paus Fransiskus menyatakan seorang anak yang meninggal pada usia 15 tahun namanya Carlo Acutis menjadi beato.

Ini peristiwa yang mirip, yang dilakukan oleh Santo Yohanes Paulus II, pada tahun 2001, St. YP II menyatakan sepasang suami istri menjadi beato dan beata. Pada 2015, ia menyatakan ibu bersama suanya menjadi orang kudua, santo dan santa. Apa yang mau dikatakan oleh Gereja? Menurut  Kardinal Suharyo sangat sederhana, yakni bahwa dengan membangun keluarga, hidup keluarga sebagai suami istri adalah jalan menuju kesempurnaan kesucian. Paus menyatakan Carlo Acutis yang baru berusia 15 tahun menjadi beato, yang mau dikatakan adalah orang muda seusia 15 tahun sudah dinyatakan oleh gereja menjdi beato, selangkah lagi menjadi orang kudus.

Apa yang istimewa dari Carlo Acutis?

Pertama, usianya baru 15 tahun.

Kedua, gaya hidupnya. gaya hidup Calo seperti anak muda biasa, suka auting, suka jalan-jalan, dsb. Tetapi bersama-sama dengan yang terjadi pada anak usianya, ada satu hal yang sangat istimewa, yaitu ia sangat mencintai ekaristi, bahkan dia mengatakan dalam salah satu ucapannya, ia mengatakan ekaristi adalah jalan tol menuju ke surga. Devosinya kepada Ekaristi sangat luar biasa. Dia dikaruniai kemampuan teknologi informasi. Ia menggunakan keahliannya dalam bidang teknologi informasi untuk mendukung penyebaran devosi ekaristi.

Banyak kata-katanya yang sangat menarik. antara lain, meski sulit dipahami, ia mengatakan “kita lahir sebagai pribadi yang asli, tetapi tidak sedikit orang yang hidup sebagai foto copy”. “Maksudnya apa? Ketika kita lahir, kita dilahirkan menjadi citra Allah tapi seiring perjalanan waktu, kecitraan Allah itu dapat luntur karena berbagai macam arus kehidupan. Sehingga tidak asli lagi, tetapi menjadi foto copy.

Hal yang menarik lagi ketika dia sakit kanker darah. Dia mengatakan kepada ibunya, “Jangan khawatir dengan penyakit saya. Saya mempersatukan penderitaan saya dengan penderitaan kristus, dan penderitaan saya saya persembahkan kepada Gereja dan kepada paus.

Akhir-akhir ini kuburnya dibuka, jenazahnya masih utuh, berpakaian jaket anak muda, memakai celana jean, sepatunyapun sepatu anak muda. Anak yang masih muda usianya, meninggal saat masih muda dinyatakan beato.

Mari kita lihat.

Carlo yang masih sangat muda itu mampu menempuh jalan menuju kesucian itu dan diakui oleh Gereja secara resmi sebagai beato.

Hal yang juga menarik adalah pengakuan ibunya. Ibunya mengatakan sebelum diselamatkan oleh Carlo Acutis, hidupnya sebagai seorang sekuler pergi ke Gereja dapat dihitung dengan jari: waktu komuni pertama, penguatan waktu menikah. Tetapi ketika melihat anaknya, Calo Acutis itu begitu saleh, ibunya bertobat. Maka ibu itu bisa mengatakan “saya diselamat oleh anak saya”.

Sumber: 

https://www.youtube.com/watch?v=OQ9QuBtH9Ds&feature=youtu.be

Foto: