SMA Katolik Ricci I Belajar Google Classroom

Jumat 05 April 2019, ukul 10.00 – 14.00 WIB, 25 guru SMA Katolik Ricci I memperoleh kesempatan mengembangkan metode pembelajaran dengan belajar Google classroom. Pelatihan ini sebagai upayan peningkatan kualitas guru dalam menghadapi 21-st Centuri Learning.

Kita ingat kata-kata “long life learning atau belajar sepanjang kehidupan”. Ungkapan ini menyadarkan keberadaan manusia. Setiap tahap kehidupan manusia merupakan hasil dari proses pembelajaran. Ia, dalam segala hal, harus belajar. Dengan belajar, manusia akan bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang utuh. Maka belajar itu merupakan proses sepanjang hidup. Manusia akan berhenti belajar bersama dengan ia berhenti hidup.

Andreas Harefa (2000) menyatakan bahwa pembelajaran akan mampu membuat manusia tumbuh dan berkembang sehingga berkemampuan, menjadi dewasa dan mandiri. Manusia mengalami transformasi diri, dari belum/tidak mampu menjadi mampu atau dari ketergantungan menjadi mandiri. Dan, transformasi diri ini seharusnya terus terjadi sepanjang hayat, asalkan ia tidak berhenti belajar, asal ia tetap menyadari keberadaannya yang bersifat present continuous, on going process, atau on becoming. Persoalan yang sering muncul adalah, sebagian besar manusia tidak mendisiplinkan dirinya untuk tetap belajar tanpa henti.

Berhadapan dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat, mendorong para guru Yayasan Ricci, khususnya guru-guru SMA Katolik Ricci I terus belajar. Belajar apapun yang dapat mendukung pengembangan dirinya dalam melaksanakan proses layanan pendidikan. Para guru menyadari sebuah keharusan untuk belajar agar layanan pembelajaran dapat disesuaikan dengan perkembangan Iptek.

Pesatnya perkembangan teknologi dan internet dalam beberapa tahun terakhir memengaruhi dunia pendidikan, terutama metode pembelajaran. Dulu kegiatan belajar mengajar cenderung dilakukan dengan siswa duduk mendengarkan guru menjelaskan, menulis dipapan tulis. Siswa mencatat yang diberikan guru dan ketika akan dilaksanakan ujian peserta didik belajar dari catatannya. Masihkan itu terjadi sekarang? Mungkin saja. Tapi cara ini sudah tidak efisien dan sesuai dengan jamannya. Guru harus mengubah paradigma pembelajaran dari Teacher-Centred ke Student-Centred Learning.

Perubahan paradigma ini bukan lagi bagaimana guru mengajar dengan baik tetapi bagaimana siswa dapat belajar dengan baik. Guru sebagai fasilitator dan motivator dalam pembelajaran. Oleh karena itu diperlukan inovasi-inovasi yang sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan.

Google class room adalah suatu learning management system yang dapat digunakan untuk melaksanakan proses kegiatan belajar mengajar menjadi lebih efektif. Dengan google classroom guru dapat memanfaatkan untuk membuat soal tes, pre-test, quiz, menggunggah materi dan mengadakan refleksi. Banyaknya fasilitas yang disediakan dalam aplikasi tersebut akan memudahkan guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Pembelajaran yang dimaksud disini bukan hanya di dalam kelas tetapi juga diluar kelas. Sebab, peserta didik daapan kapanpun dan di manapun menakses materi pembelajaran guru secara online. (robertus_suparjo)

Beberapa kemudahan yang diperoleh guru dari aplikasi ini antara lain:

  • Mempermudah dalam melaksanakan distribusi materi pembelajaran kepada seluruh siswa tanpa harus meng-copy. Dengan kata lain ini akan mendukung program gerakan paperless.
  • Mengumpulkan tugas-tugs peserta didik dalam satu wadah.
  • Memudahkan peserta didik dalam mengakses materi pembelajaran, tanpa terhambat oleh ruang dan waktu.
  • Membantu para guru untuk lebih mudah dalam mengatur kelas.

Semoga semangat untuk terus belajar berhadapan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tetap menyala dalam diri para guru. Dengan demikian layanan pendidikan kepada peserta didik akan semakin dapat ditingkatkan.