Sekolah Ricci Berantas Nyamuk DBD

Penyakit demam berdarah banyak ditemukan di daerah tropis, termasuk di Indonesia. Penyakit yang disebabkan oleh virus dengue ini yang kita kenal dengan sebutan DBD (Demam Berdarah Dengue), masih menjadi salah satu masalah utama kesehatan yang dihadapi masyarakat Indonesia. Dari awal tahun hingga akhir Januari 2019 berdasarkan data sementara yang dihimpun Kementerian Kesehatan, penderita DBD yang dilaporkan mencapai 13.683 orang di seluruh Indonesia, termasuk 613 kasus di DKI Jakarta.

Bahaya DBD yang sering disepelekan sebagian orang ternyata dapat mematikan hanya dalam hitungan hari. Pembawa virus tersebut adalah nyamuk Aedes aegypti betina, karena nyamuk betina membutuhkan protein dari darah manusia untuk bereproduksi.

Untuk membasminya, penting bagi kita untuk mengetahui siklus hidup nyamuk tersebut. Siklus hidup nyamuk dimulai dari telur. Telur memiliki waktu 1 sampai 3 hari untuk menetas menjadi larva dalam 4 instar. Lalu larva hidup selama 4 hari kemudian menjadi kepompong, yang bisa berumur antara 1 hari sampai beberapa minggu. Nyamuk dewasa diperkirakan dapat hidup 1 sampai 3 bulan setelah keluar dari kepompong. Nyamuk Aedes aegypti biasanya aktif pada pagi dan sore hari.

karena hal itu, Sekolah Ricci menyadari pentingnya menjaga kebersihan ruang kelas, kantin, toilet, selokan air, sampai halaman terbuka dan area kebun. Dalam rangka antisipatif dan preventif, Divisi RT kembali mengadakan kegiatan rutinnya melakukan penyemprotan (fogging) anti nyamuk DBD sewaktu libur sekolah. Dari awal bulan Maret sampai dengan tanggal 7 April 2019, sudah dilakukan tiga kali penyemprotan anti nyamuk DBD.

 

 

(herbert)