Satu Suara Satu Langkah Satu Hati

Workshop yang baru saja dilakukan oleh Yayasan Ricci bersama seluruh tenaga pendidik dan kependidikan SMA Katolik Ricci dan Yayasan, merupakan suatu langkah baru untuk mewujudkan sekolah yang berkualitas unggul. Tantangan yang dihadapi sekolah ke depan semakin besar. Tantangan itu bukan hanya soal jumlah penerimaan siswa tetapi terlebih bagaimana melaksanakan proses pendidikan di era digital.

Media sosial menawarkan banyak hal untuk meningkatkan kompetensi akademik siswa di sisi lain tenaga pendidik dituntut untuk mampu memanfaatkan media sosial tersebut untuk mendukung pencapaian tujuan kegiatan pembelajaran. Inilah yang mendorong dilaksanakan workshop tersebut. Tentu ini bukan program pertama dan terakhir, melainkan program awal yang akan terus dibangun demi mewujudkan Sekolah Ricci yang unggul dan lebih berkualitas.

Hadir dalam workshop tersebut seluruh tenaga pendidik dan tenaga kependidikan SMA Katolik Ricci I dan II, seluruh tenaga kependidikan Yayasan Ricci, dan pengurus harian Yayasan Ricci.

Sebagaimana dipaparkan oleh Bp. Michael Sofian Tanuhendrata, MM , workshop tenaga pendidik dan kependidikan ini bertujuan:

a. Bersama-sama memahami dan mendalami Visi dan Misi Sekolah secara tepat dan terukur.
b. Membuat rancangan program sekolah berdasarkan visi dan misi
c. Mengaplikasikan program-program tersusun menjadi karya nyata dalam kegiatan belajar mengajar.

Kegiatan Workshop diawali dengan arahan dari Pimpinan Yayasan, tentang arah dan tujuan workshop. Setelah itu beliau mengajak seluruh peserta untuk mereview kembali bersama tentang visi dan misi sekolah. Melalui sesi ini seluruh peserta diajak untuk kembali merefleksikan tugas dan panggilannya sebagai seorang tenaga pendidik.

Tenaga pendidik tidak cukup hanya dipahami sebagai pekerja. Peran seorang tenaga pendidik jauh lebih mulia dari pada seorang pekerja. Karena itu menjadi tenaga pendidik itu panggilan, dipanggil oleh Allah untuk melakukan peran yang mendasar yakni memanusiakan manusia.

Tenaga pendidik dipanggil untuk melayani peserta didik dalam membentuk diri mereka menjadi pribadi yang seutuhnya. Sebagai pelayan, tenaga pendidik juga harus memahami dengan benar kondisi dan keadaan peserta didik. Dunia terus berubah, pesera didik juga terus berubah, maka sebagai tenaga pendidik juga harus berubah. Tanpa mau mengikuti perubahan makan keguruan menjadi tidak bermakna.

Dokter Darmawan, AP., salah satu pengurus Yayasan Ricci menyajikan materi “ Bagaimana mengelola diri untuk melayani dan mencapai kebahagiaan dalam hidup yang bermakna ”. Manusia hidup tidak hanya memenuhi kebutuhan fisik saja. Itu berarti mereka harus juga memenuhi kebutuhan rohaninya. Hidup harus seimbang, jiwa dan badan, jasmani dan rohani.

Para tenaga pendidik dalam melaksanaan proses pembelajaran berhadapan dengan berbagai persoalan. Tenaga pendidik menghadapi peserta didik dengan gaya hidup masa kini, dinamika kehidupan sosial, aneka spirit dalam dunia kerja, dan probematika yang dihadapi dalam melaksanakan karya. Berhadapan dengan semua itu tenaga pendidik perlu bercermin diri, bercermin untuk mendalami dan memahami kakuatan yang ada dalam dirinya agar dapat melaksanakan perannya dengan baik. Untuk itu memanfaatkan metode “Johari Window” akan membantu kita dapat memberikan layanan yang lebih baik.

Hari kedua diawali dengan melakukan SOAR dalam unit masing-masing. SOAR : strength, opportunities, aspirations, dan result. Masing-masing unit diminta untuk melakukan SOAR. Melalui kegiatan SOAR ini setiap unit dapat secara bersama-sama memberikan layanan yang lebih baik mempersiapkan peserta didik mengakhiri pendidikan di Sekolah Ricci dengan prestasi yang lebih cemerlang.

Selama satu hari setiap unit menyusun program strategis untuk mencapai tujuan jangka pendek dalam melaksanakan layanan pendidikan di sekolah. Unit tenaga kependidikan menjadi tim supporting agar dapat mendukung secara total pencapaian tujuan unit. Untuk itu memang dibutuhkan kecermatan dalam melihat kebutuhan-kebutuhan unit SMA dalam penyusunan programnya. Akhir hari dilakukan presentasi dan dialog untuk mempertajam program oleh seluruh peserta workshop.

Rangkaian workshop ditutup oleh Kepala Operasional Pendidikan (OPSDIK) Sekolah Ricci, Sr. M. Levita FSGM, dengan menyajikan materi dari Gaudete et Exultate. Gaudete et Exultate merupakan seruan Bapa Paus Fransiskus untuk menjalani hidup pada masa sekarang. Mengawali pemaparannya Suster M. Levita menjelaskan bahwa bahagia adalah sebuah pilihan. “happiness is a choice”. Manusia mau apapun, bahagia atau susah, optimis atau pesimis, positif atau negative, semua adalah pilihan. Kitalah yang memilih. Karena hidup adalah pilihan, bahagia adalah pilihan, maka pertanyaannya adalah bagaimana kita memutuskan untuk memilihnya.

Ada lima jalan yang ditawarkan untuk menuju pada hidup yang sukacita :
a. Menjadi diri sendiri
b. Mencintai apa yang dikerjakan setiap hari
c. Selalu mengandalkan Tuhan
d. Berusaha untuk selalu bersikap dan berbuat
e. Tekun dan sabar dalam kesulitan (penuh rasa humor).

Demikian juga tenaga pendidik. Menjadi seorang tenaga pendidik meruapakan suatu panggilan hidup. Karena panggilan maka juga pilihan hidup. Adakah kegembiraan menjadi seorang tenaga pendidik akan memiliki dampak terhadap proses belajar siswa? Seperti ketika kita melempar batu ke dalam air, maka akan muncul gelombang atau riak. Demikian juga kegembiraan tenaga pendidik. Selalu akan ada efek.

Batu yang dijatuhkan dalam air akan menimbulkan efek. Sikap kegembiraan juga dalam proses kegiatan mengajar. Oleh karena itu menjadi penting tenaga pendidik selalu tampil happy, bahagia di hadapan peserta didik agar setiap hari peserta didik dapat menerima aura bahagia tenaga pendidik.

Jika setiap saat yang mereka terima adalah aura kebahagiaan maka merekapun akan merasakan bahwa hidup adalah hal yang menggembirakan. Jika tenaga pendidik selalu tampil mengajar dengan bahagia maka siswa akan mengalami bahwa belajar adalah hal yang membahagiakan. “Generasi milineal butuh tenaga pendidik yang bahagia”, demikian ditandaskan oleh Sr. Levita pada bagian awal paparannya.

Workshop ditutup dengan sharing perwakilan unit SMA Katolik Ricci I dan II. Masing-masing memberikan kesan bahwa progam ini sangat baik, sangat memberi wawasan dan arahan untuk mempersiapkan program pengembangan yang positif dalam melaksanakan layanan pendidikan di Sekolah Ricci. Para menyaji materi memberikan masukan yang sangat mendalam, dibawakan dalam suasana yang cukup ringan, happy, dan aplikatif. Mereka juga memberikan masukan bahwa program seperti ini akan jauh lebih baik jika dilaksanakan pada awal semester sehingga tidak mengganggu program yang sedang berjalan di unit masing-masing.

Semoga semua proses menjadi langkah awal yang jauh lebih baik dalam memberikan layanan pendidikan kepada seluruh insan Ricci.