SERI: SEHAT FISIK SELAMA MASA PANDEMI COVID-19.

SHARE

Bagaimana membangun diri sehat di masa pandemi? Pertanyaan ini menjadi pembahasan dalam webinar 3 Sekolah Ricci. “Sehat Fisik di masa Pendemi” merupakan salah satu dari bahasan dari seri sehat di masa Pandemi. Pentingnya membahas tema ini dilatarbelakangi oleh jumlah penderita COVID-19 semakin meningkat. Sebagian dari mereka, yang sebelumnya telah menderita sakit jantung, diabetes, asma merupakan kondisi  yang lebih rentan terhadap terpapar COVID-19. Dalam kondisi saat ini, tak jarang pola kegiatan yang kita lakukan di masa pandemi pun membuat kita kurang fit. Work from Home membuat kita menjadi kurang gerak, kurang berolahraga. Bagaimana kita dapat mengantisipasi agar kita dan keluarga kita tetap sehat secara fisik?

Pada webinar 3 ini Sekolah Ricci menghadirkan Dokter Anita Suryani Sp.KO. Dokter Anita merupakan salah satu Pengurus Ikatan Dokter Indonesia Cabang Jakarta Timur Periode tahun 2019-2022. Beliau pernah menjadi dokter Tim Nasional Olahraga Voli 2017-2018. Dalam webinar yang berlangsung hingga pukul 21.20 yang sedianya hanya sampai 20.20, dokter Anita selain menjelaskan bagiamana membangun tubuh yang sehat dan menjaga imunitas tubuh di masa pandemi juga menyampaikan beberapa rekomendasi dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga bagaimana “Tetap Aktif Selama Pandemi COVID-19”. Waktu 60 menit untuk mengupas secara tuntas tentang sehat di masa pandemi ternyata tidak cukup. Ada begitu banyak pertanyaan dari 168 orang peserta webinar yang harus dijawab. Itulah sebabnya webinar menambah waktu 1 jam.

Dalam waktu kurang lebih satu setengah jam itu dibahas antara lain:

  1. Hal-hal yang harus diperhatikanuntuk membangun diri yang sehat di masa pandemic:
  1. Hindari Gaya Hidup Kurang Gerak.

“Social Distancing” dan “Work from Home” condong membuat seseorang memiliki gaya hidup kurang gerak. Hasil studi menunjukkan bahwa gaya hidup kurang gerak dapat menurunkan imunitas tubuh sehingga meningkatkan risiko terjadinya infeksi virus.

  1. Latihan Aeronik

Latihan aerobik merupakan latihan yang dapat dilakukan baik di dalam ataupun di luar ruangan dengan tetap mengutamakan “Social Distancing” dan “Free Touch Activity”. Latihan aerobik dapat dilakukan dengan, misalnya, jalan di dalam rumah selama 10-15 menit 2-3 kali sehari. Atau, dancing, lompat tali, senam aerobik menggunakan youtube

  1. Latihan Kekuatan Otot.

Latihan kekuatan otot dapat dilkukan dengan mengunduh aplikasi di smartphone. Lakukanlah gerakan-gerakan seperti squat (jongkok – berdiri), lunges, push-up.

  1. Lakukan stretching break.

Lakukan gerakan-gerakan stretching atau peregangan setiap 2 jam sekali. Hindarilah duduk sepanjang hari. Lakukan peregangan statis dengan menahannya selama 10-15 detik.

  1. Hindari Overtraining.

Belajar pada kurva “huruf J” menyatakan bahwa latihan fisik sedang dapat meningkatkan imunitas tubuh seseorang. Sedangkan latihan dengan intensitas tinggi justru akan menurunkan imunitas tubuh sehingga meningkatkan risiko infeksi.

 

  1. Beberapa pertanyaan mendasar yang perlu dipahami dalam menjalani karantina.
  1. Apa yang harus dilakukan seseorang jika sedang menjalani karantina namun tidak terinfeksi?

Jika seseorang dinyatakan tidak terinfeksi namun dengan menjalani karantina, maka tetaplah menjalankan aktivitas di tempat melakukan karantina. Tidak ada rekomendasi untuk membatasi aktivitas fisik apapbila tidak ditemukan adanya gejala.

  1. Apakah latihan fisik dapat mencegah terkena infeksi virus?

Latihan fisik dengan intensitas sedang dapat meningkatkan sistem imun seseorang. Akan tetapi, latihan fisik intensitas tinggi dengan volume yang tinggi justru dapat menurunkan sistem imunitas seseorang. Jika seseorang yang terinfeksi tanpa gejala sebaiknya melakukan latihan fisik dengan intensitas sedang, denan tetap memperhatikan adanya gejala sebagai panduan. Jika mengalami demam, batuk, sesak nafas segera stop latihan dengan pegi ke fasilitas kesehatan yang ditunjuk.

 

  1. Pemakaian masker dan face shield.
  1. Adakah pengaruh masket saat melakukan tlatihan fisik? Haruskan saat berolah raga menggunakan masker?

Dokter Anita mengatakan bahwa semua ketidaknyamanan masker hanya terjadi pada fase akut atau penggunaan awal masker. Artinya, seseorang merasakan terganggu dengan penggunaan masker saat berolahraga hanya terjadi pada saat-saat awal. Jika familiarisasi atau penyesuaian sudah terjadi maka tidak lagi terjadi pengaruh negatif pada latihan.

 

  1. Bagimana dengan penggunaan face shield?

Apakah face shield dapat menggantikan fungsi masker? menurut EBCR (Evidence- Based Care Report) face shield merupakan alat pelindung diri ang digunakan oleh banyak petugas kesehatan selama masa pandemi COVID-19 untuk melindungi wajah dan selaput lender (mata, hidung, mulut) dari penyebaran infeksi. Face shiled tidak digunakan sendiri, tetapi bersama denan APD lain seperti penutup kepala, masker, kacamata, sehingga diklasifikasikan sebagai APD tambahan.

Secara substansial dapat mengurangi paparan janka pendek terhadap partikel aerosol infeksi yang besar, sehingga partikel yang lebih kecil berada di udara lebih lama dan dapat masuk/keluar dari celah face shield. Dengan demikian, pelindung wajah memberikan perlindunga ernafasan tambahan namun tidak dapat digunakan sebagai pengganti masker.

 

Kesimpulan.

Pada akhir webinar tersebut, dokter Anita Suryani memberikan dua catatan pokok untuk menjadai fisik sehat selama masa pandemi:

Pertama, tetap olehraga di rumah saja selama masa pandemi ini.

Kedua, jika ingin olahgara ditempat umum, maka hal0hal yang harus sungguh-sungguh perhatikan adalah tetap menjaga jarak, memakai masker dengan benar dan baik, free touch activity, dan membawa peralatan olahraga sendiri.