SEKOLAH RICCI MERAYAKAN PESTA NAMA

SHARE

Tanggal 11 Mei merupakan peringatan kematian Matteo Ricci. Ia meninggal 11 mei 1610 dan sebagai misionaris pertama yang dimakamkan dengan segala penghormatan oleh Kaisar sendiri.

Bukan hal yang mudah bagi Matteo Ricci dan teman-temannya menjadi misionaris di negeri Cina. Para misionaris sebelumnya gagal dalam menjalankan misionernya di Cina. Salah satu  penolakan masyarakat Cina terhadap orang asing bahwa mereka dianggap sebagai “orang barbar”, kolot atau tidak berbudaya. Maka untuk dapat berhasil dalam misinya Matteo Ricci harus membuktikan bahwa ia dan teman-temannya bukan orang barbar, kolot dan tidak berbudaya.

Berbagai upaya dilakukan oleh  untuk membuktikan hal tersebut. Ia sangat menghargai kesenian dan busaya Cina. Ia mempelajari tulisan-tulisan dari Ilmuwankuno dan mendekati serta bersahabat dengan para Imuwan pada masa itu.  menyusun peta dunia versi Cina untuk menunjukkan dari mana asalnya, menterjemahkan karya matematika, astronomi, dan teknis. Ia membuat peta dunia dengan menggambarkan benua dan Negara  barat, sehingga para ilmuwan Cina mengetahui letaknya Negara yang mereka anggap barbar, begitu juga membuat arloi besar, yang teknisnya belum diketahui orang Cina pada waktu itu.

Matteo Ricci menjadi seperti jembatan antara timur dan barat; dia memperkenalkan budaya dan ilmu barat dan memperkenalkan ilmu dan budaya Cina di Eropa. Dia menjadi orang yang mempertemukan timur dan barat, yang mempertemukan busayadan ilmu yang sebelumnya tinggal jauh. Melalui karyanya tentang “Persahabatan” ia mampu mempertemukan Cinda dan Eropa.

Salah satu nilai utama yang ditanamkan oleh  adalah DIALOGIS. Ia selalu mengutamakan dialog dalam memperkanalkan pewartaan misinya. Dengan dialog ia menjelaskan bahwa  tidak membawa agama yang serba baru, tetapi membawa agama yang mengembangkan dan melengkapi agama kong hu cu yang dianut oleh masyarakat Cina.

Dari penelusuran bagaimana  mampu menjadi misionaris yang diterima dengan baik oleh masyarakat Cina termasuk kaisar Cina, setidaknya ada empat pilar yang dapat dijelaskan.

  1. Kebijakan akomodasi atau adaptasi dengan budaya Tiongkok.

 sangat menyadari bahwa keberhasilan misinya adalah jika dia mampu mendekatkan isi pewartaannya dengan budaya masyarakat setempat. Pengetahuan akan bahasa dan budaya setempat akan mempermudah dia masuk dan diterima oleh masyarakat. Itulah sebabnya saat ia masuk ke Cina pertama-tama yang dipelajari adalah bahasa dan budaya Cina. Awal dia masuk ke Cina,  mengikuti cara hidup dan budaya Budhisme. Ia berpakaian abu-abu layaknya seorang biawaran budhis, mengganti namanya menjadi Li Ma Tou. Bukan hanya dengan kaum Budhis,  juga memmbangun kedekatan dengan kaum Konfusian. Ia melebur dalam kebiasaan hidup para cendekiawan Konfusian.  mulai berpakaian layaknya seorang cendekia Konfusia; menyamakan dirinya dengan ara pejabat dan berada dalam lapisan masyarakat tertinggi. Perubahan itu ternyata membawa perubahan yang sangat  besar. Strateginya berhasil yang baik.

 

  1. Propaganda dan Evangelisasi 'top-down'

 meyakini bahwa proses penginjilan dapat berhasil jika dimulai dari kalangan atas seperti para cendekiawan bahkan kalau memungkinkan terhadap kaisar sendiri, metode top down. Ia menjalin relasi baik dengan para petinggi Negara Cina. Halite dimaksdukan untuk mempermudah dalam melaksanakan misinya di Cina.

Oleh karena itu  menemui Kaisar Wan Li dan menyampaikan kepadanya bahwa ia datang ke Cina untuk mempelajari kekayaan dari peradaban Cina sambil membawa upeti. Setiba di ibu kota Beijing, ia memberi Kaisar Wan Li peta Negara asing, jam berdentang, dan hadiah lainnya yangakhirnya mendorong Kaisar mengizkan Ricci melakukan pekerjaan misionaris di Beijing, juga pembangunan Katedral Selatan (Nantang), gerejaKatolik pertama di kota itu.

 

  1. Penyebaran iman melalui sains dan teknologi Eropa

Matteo Ricci tidak pernah mempertentangkan agama dengan teknologi. Ia memperkenalkan ilmu pengetahuan barat kepada Tiongkok, termasuk Matematika, geometri, dan astronomi. Ia menulis basic geometry yang diterjemahkan ke dalam bahasa Tiongkok dengan bantuan Xu Guangqi. Ia juga menulis buku astronomi Fact and Fiction.

 adalah orang yang ceerdas. Keberhasilannya dalam penyebaran iman Kristen antaralain dengan strateginya “menggunakan cara Cina untuk memasuki Cina”. Ia tahu bahwa pengetahuan asing akan ditentang. Maka ia menggunakan gezhixue (penyelidikan hal-hal dan pemahaman prinsip) – yang sudah ada dalam filsafat Cina untuk menjelaskan alam barat, sains dan agama.

Selain mempelajari bahasa dan budaya Cina, ia juga berdiskusi dengan para cendekiawan Cina, melihat bahwa peta buatan mereka kurang sempurna, danmemperlihatkan bahwa peta buatan Riccilah yang lebih terperinci. Ia juga menterjemahkan keterangan-keterangan yang terdapat dalam peta ke dalam bahasa Cina atas permintaan gubernur Wan-Pan.

 

  1. Keterbukaan dan toleransi terhdap nilai-nilai Tiongkok.

 menyadari bahwa orang Cina mempunyai agama dan kultur yang bertaurtan erat dengan busaya leluhur, yaitu menyembah Tuhan Surga. Agama itu kemudian menjadi tiga aliran yakni Kung Fu tze, Taoisme, dan Budhisme.  bisa memahami bahwa orang Cina membakar dupa di depan arca atau patung Kung Fu tze sebagai tanda penghormatan dan bukan penyembahan berhala. Begitu juga penghormatan leluhur dipandang sebagai ungkapan kasih sayang dan terima kasih anak kepada orang tua.Namun demikian  tetapberpegang pada ajaran kristiani dan tidak mentolerir segala hal yang bertentangan dengan iman kristiani.

Sikap toleransi  terhadap agama dan budaya Cina ini menjadi metode dialog yang kemudian dilanjutkan para misionaris Jesuit sesudahnya.

 

Refleksi

Kesetiaan, kerendahan hati dan semangat untuk belajar dan berbagi yang dimiliki Matteo Ricci merupakan pegangan pokok bagi pelayanan pendidikan di Yayasan RIcci. Ia juga memberi teladan untuk tidak mudah patah semangat ketika berhadapan dengan persoalan-persoalan yang datang.

Spiritualitas Matteo Ricci dalam melaksanakan misinya di Cina mesti ditanamkan dalam diri seluruh insan Ricci.  Matteo Ricci berhasil melaksanakan misinya di Cina karena ia akomodatif terhadap budaya Cina, mampu menguasai dan menerapkan teknologi dalam pewartaanya, mampu melakukan pendekatan top down, dan memiliki keterbukaan dan toleransi terhadap kepercayaan yang ada dalam masyarakat Cina pada waktu itu. Maka nilai-nilai keutamaan Ricci mesti juga dijadikan “makanan yang harus dikunyah dan ditelan” oleh setiap peserta didik agar mereka mampu menjadi pribadi sebagaimaa dirumuskan dalam visi sekolah Ricci. Dengan demikian penyelenggaraan pendidikan yang membangun manusia berkarakter unggul, cerdas, berbudaya dan beriman berlandaskan nilai-nilai kristiani dan spiritualitas Matteo Ricci akan dapat terwujud.

 

NB.

Tulisan ini diperkaya dari berbagai sumber antara lain: